Aksi Dedi Mulyadi yang Menggegerkan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan setelah mengungkap pengalaman pribadinya yang mengejutkan. Ia mengaku pernah dituduh sebagai musyrik dan mendapat serangan. Pengakuan ini muncul saat dirinya menyampaikan pidato kebudayaan di hadapan para sultan keraton dan ribuan warga.
Pengakuan tersebut disampaikan dalam acara puncak kirab budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan, Kota Cirebon, pada Minggu (10/5/2026) malam. Dedi Mulyadi tampak beberapa kali menahan air mata, terutama saat membahas sejarah Pajajaran, sejarah Sunda, serta mimpi membangun kembali peradaban Jawa Barat berbasis budaya dan nilai pluralisme.
“Masa lalu adalah histori, masa lalu adalah filosofi, masa lalu adalah ideologi. Masa depan adalah tantangan yang harus diwujudkan. Tak ada negara besar yang menjadi kekuatan besar tanpa terikat terhadap masa lalunya,” ujar Dedi Mulyadi.
Ribuan warga memadati jalan protokol untuk menyaksikan kirab budaya yang membawa Mahkota Binokasih, simbol sejarah Tatar Sunda. Dedi tampil sembari menunggangi kuda dan memakai pakaian adat serba putih.
Kirab budaya tersebut melintasi Jalan Pasuketan, Jalan Pekiringan, Jalan Petratean, Jalan Pulasaren hingga finis di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan. Berbagai kesenian tradisional dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat turut ditampilkan, mulai dari Reog, Ondel-ondel, ogoh-ogoh hingga iring-iringan kereta kencana dan musik angklung massal.
Dedi langsung menyapa para sultan dan tokoh budaya Cirebon yang hadir dalam acara tersebut. “Malam hari ini lengkap, kasepuhan kita, tokoh kita, para sultan yang ada di wilayah Cirebon hadir. Dari Kasepuhan, dari Kanoman, dari Kacirebonan, dari Kaprabonan. Tepuk tangan semuanya,” ucapnya.
Ia juga menyinggung soal kirab budaya yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. “Yang paling utama bukan untuk membangun cerita masa lalu, tetapi membangun jembatan masa lalu dan masa depan. Karena banyak di antara kita hari ini ngomongin masa depan, tidak mengerti sejarah masa lalu,” ungkap Dedi Mulyadi.
Suasana bahkan makin emosional tatkala Dedi Mulyadi menangis saat berbicara tentang Mahkota Binokasih dan perjuangannya membangun narasi Pajajaran sejak masih menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada 2003 silam. “Saya ini kenapa selalu menangis? Karena ketika saya menjabat Wakil Bupati tahun 2003 di Purwakarta, saya mulai membangun narasi tentang Pajajaran Anyar,” ungkap Dedi.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi mengungkap pengalaman pribadinya yang mengejutkan. Ia mengaku pernah dituduh musyrik hingga mendapat serangan. “Waktu itu saya mendapat serangan tentang apa? Kemusyrikan, kembali ke zaman batu. Berkali-kali saya diperiksa secara terus-menerus,” ujar Dedi Mulyadi.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga memuji Kota Cirebon sebagai wilayah yang memiliki wajah Islam inklusif dan pluralisme yang masih kuat di Jawa Barat. “Di Cirebon tidak pernah terdengar kalimat musyrik. Di Cirebon tidak pernah terdengar kalimat kafir dan mengkafirkan,” katanya.
“Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Kalau dalam bahasanya para pakar, di Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif,” tandasnya.
Posting Komentar untuk "Sambil Menahan Air Mata, Dedi Mulyadi Akui Pernah Dituduh Musyrik dan Diserang"