zmedia

182 Sepak Pojok Terbuang! Striker Persebaya Harus Dievaluasi Musim Depan

Persebaya Surabaya: Dominasi Sepak Pojok Tapi Minim Gol

Persebaya Surabaya tercatat sebagai tim dengan jumlah sepak pojok terbanyak kedua di Super League 2025/2026. Dari 32 pertandingan, mereka telah menghasilkan 182 corner, atau rata-rata 5,69 corner per laga. Namun, meskipun memiliki peluang yang melimpah, produktivitas dua striker utama Green Force, Mihailo Perovic dan Bruno Paraiba, masih jauh dari harapan. Keduanya hanya mencetak enam gol sepanjang musim.

Rentetan tiga kemenangan beruntun Persebaya Surabaya akhirnya terhenti setelah ditahan Persis Solo tanpa gol di Stadion Manahan, Sabtu malam (9/5/2026). Hasil imbang 0-0 itu kembali menunjukkan masalah klasik yang dihadapi tim asuhan Bernardo Tavares, yaitu buruknya penyelesaian akhir meski mampu menciptakan banyak peluang sepanjang pertandingan.

Banyak Sepak Pojok, Minim Gol Penyerang

Persebaya Surabaya dikenal sebagai salah satu tim paling agresif dalam menghasilkan peluang dari sisi sayap dan bola mati. Statistik Super League 2025/2026 mencatat bahwa Green Force telah mengoleksi 182 sepak pojok hingga pekan ke-32. Jumlah tersebut hanya kalah dari Persija Jakarta yang memiliki 200 corner dari 32 pertandingan. Bahkan, Persebaya Surabaya masih unggul dibanding Persib Bandung (171 corner) dan PSM Makassar (176 corner).

Sayangnya, derasnya suplai peluang ini belum mampu dimaksimalkan oleh lini depan Persebaya Surabaya. Dua striker utama, Mihailo Perovic dan Bruno Paraiba, tampil jauh dari ekspektasi sebagai ujung tombak utama tim.

Mihailo Perovic, yang menjadi striker utama, baru mencetak lima gol dari 26 pertandingan musim ini. Selain itu, dia hanya menyumbangkan satu assist dari total 1.627 menit bermain bersama Persebaya Surabaya.

Sementara itu, Bruno Paraiba, yang didatangkan untuk menambah daya gedor, juga belum menunjukkan kontribusi signifikan. Dari sembilan pertandingan, striker asal Brasil tersebut hanya mencetak satu gol dan dua assist dalam 292 menit bermain.

Jika digabungkan, dua striker murni Green Force hanya menghasilkan enam gol sepanjang musim. Jumlah ini dinilai tidak sebanding dengan banyaknya peluang maupun dominasi permainan yang sering ditunjukkan Persebaya Surabaya.

Dominasi Persebaya Surabaya Tak Berujung Kemenangan

Masalah efektivitas kembali terlihat saat menghadapi Persis Solo di Stadion Manahan. Meski bermain tandang, Persebaya Surabaya mampu tampil dominan terutama sepanjang babak pertama pertandingan. Bruno Moreira dan rekan-rekannya beberapa kali sukses membongkar pertahanan Persis Solo melalui kombinasi serangan cepat maupun umpan dari sisi lapangan. Total lima tembakan tepat sasaran berhasil dilepaskan Green Force sepanjang laga.

Pelatih Bernardo Tavares menilai anak asuhnya sebenarnya tampil cukup baik dalam mengontrol pertandingan. Menurut dia, Persebaya Surabaya memiliki peluang lebih banyak dibanding tuan rumah pada fase awal laga.

“Menurut saya pertandingan berjalan sangat intens. Pada babak pertama, kami sebenarnya memiliki lebih banyak peluang dibanding lawan. Hingga sekitar 15 menit pertama kami mampu mengontrol permainan dengan cukup baik,” ujar Tavares.

Pelatih asal Portugal tersebut melihat Persis Solo sengaja bermain lebih menunggu sambil mengandalkan serangan balik cepat. Strategi itu membuat pertandingan berjalan ketat dan mempersulit Green Force mengembangkan permainan secara maksimal.

“Persis lebih banyak menunggu dan mencoba memanfaatkan situasi transisi. Mereka juga berusaha menutup ruang agar kami sulit mengembangkan permainan,” imbuhnya.

Penyelesaian Akhir Jadi PR Besar Bernardo Tavares

Bernardo Tavares secara terbuka mengakui Persebaya Surabaya memiliki banyak peluang yang gagal dimanfaatkan menjadi gol. Kondisi ini membuat Green Force kembali kehilangan poin penting dalam persaingan papan atas klasemen.

Menurut Tavares, hasil pertandingan bisa saja berbeda apabila para pemain tampil lebih efektif di depan gawang lawan. Buruknya finishing menjadi salah satu faktor utama Persebaya Surabaya gagal mencetak gol di Manahan.

“Jika kami bisa memaksimalkan peluang-peluang di babak pertama maupun kedua, mungkin hasilnya akan berbeda dan kami punya peluang lebih besar untuk memenangkan pertandingan,” ucapnya.

Ucapan Tavares seolah mempertegas persoalan utama Green Force musim ini. Persebaya Surabaya sebenarnya cukup konsisten menciptakan peluang, tetapi produktivitas penyerang belum mampu menjawab kebutuhan tim.

Statistik sepak pojok menjadi bukti nyata agresivitas permainan Green Force sepanjang musim. Dengan rata-rata hampir enam corner per pertandingan, Persebaya Surabaya sebenarnya memiliki banyak kesempatan membangun peluang dari bola mati. Namun, minimnya kontribusi striker membuat banyak kesempatan itu terbuang percuma. Situasi tersebut mulai memunculkan tuntutan evaluasi terhadap komposisi lini depan Green Force untuk menghadapi musim depan.

Satu Poin Tetap Disyukuri Persebaya Surabaya

Meski gagal mempertahankan tren kemenangan, Bernardo Tavares tetap mengapresiasi perjuangan para pemainnya di Stadion Manahan. Dia menilai satu poin tetap menjadi hasil penting mengingat Persis Solo sangat kuat saat bermain di kandang sendiri.

“Tentu kami ingin menang, tetapi satu poin di stadion yang sulit seperti ini tetap harus disyukuri. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pemain yang sudah berjuang keras,” pungkasnya.

Tambahan satu poin membuat Persebaya Surabaya tetap menjaga posisi di papan atas klasemen Super League 2025/2026. Namun, penyelesaian akhir dan ketajaman striker tampaknya bakal menjadi pekerjaan rumah besar yang wajib dibenahi sebelum musim baru dimulai.

Posting Komentar untuk "182 Sepak Pojok Terbuang! Striker Persebaya Harus Dievaluasi Musim Depan"